LUWU TIMUR,Timuronline – Alam perlu dijaga karena merupakan aset vital bagi kelangsungan hidup manusia dan mahluk lain menyediakan sumber daya penting seperti udara bersih, air dan makanan serta mencegah bencana alam.
Menjaga alam juga merupakan tanggung jawab terhadap generasi mendatang dan berdampak positif pada kesehatan manusia secara keseluruhan.
Upaya menjaga alam dapat dimulai dari tindakan kecil seperti mengurangi sampah plastik dan menghemat energi, hingga tindakan yang lebih besar seperti menanam pohon dan menjaga kelestarian hutan.

Setidaknya hal itu juga yang dijaga masyarakat Desa Pasi-Pasi Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Dimana di salah satu sudut di desa tersebut, kini kita bisa menemukan pohon mangrove yang tumbuh subur dan menjadi daya tarik bagi masyarakat.

Sebagai perusahaan yang memiliki tanggung jawab sosial khususnya di wilayah pemberdayaan salah satunya di Desa Pasi-Pasi, PT.Vale Indonesia mendukung penuh apa yang telah dilakukan masyarakat.
Sebagai bukti nyata belum lama ini PT. Vale Indonesia berkolaborasi dengan TNI Angkatan Laut (Danlantamal VI Makassar), Polres Luwu Timur, Organisasi konservasi, KPA dan warga Desa Pasi-Pasi menggelar aksi menanam ribuan bibit mangrove disepanjang pesisir Pantai Desa Pasi.
Aksi ini dilakukan selain sebagai langkah strategis untuk mencegah abrasi dan memulihkan ekosistem pesisir pula sebagai bentuk komitmen nyata perusahaan dalam praktik pertambangan berkelanjutan (Sustainable Mining)
Dalam kesempatan itu, Wakil Presiden Direktur dan Chief Operations dan Infrastructure Officer PT Vale Indonesia, Abu Ashar mengungkapkan kegiatan ini merupakan bagian dari strategi restorasi jangka panjang PT. Vale Indonesia yang dilaksanakan bersama TNI Angkatan Laut (Danlantamal VI Makassar), Pemerintah Kabupaten Luwu Timur, Polres Luwu Timur Bersama organisasi konservasi, serta masyarakat sekitar, sebagai bentuk komitmen nyata praktik pertambangan yang berkelanjutan dan bertanggung jawab.
“Kami tidak hanya menanam pohon, kami sedang menanam ketahanan untuk masa depan. Ini adalah bagian dari komitmen kami membangun pertambangan yang tidak hanya produktif, tetapi juga peduli terhadap keberlanjutan lingkungan,” ujarnya
Tak terasa waktu berlalu, kini desa yang berada di pesisir Teluk Bone ini menjadi salah satu tujuan destinasi pariwisata terkhusus objek ekowisata yang dikelola masyarakat sekitar.
”Ekowisata ini menjadi satu-satunya destinasi wisata mangrove yang ada di Luwu Timur. Ini menarik, karena selain menjadi daya tarik bagi wisatawan, keberadaan mangrove di wilayah ini juga bisa mencegah erosi pantai, menyerap karbon dan menjadi habitat bagi satwa laut. Apalagi kan kita tahu, di desa ini sebagai besar penduduknya menggantungkan hidup sebagai nelayan. Saya rasa hal ini sangat cocok,” ujar Amiruddin, salah seorang pengunjung
Dia berharap agar masyarakat setempat, pemerintah desa dan terkhusus bagi PT. Vale Indonesia agar tetap menjaga ekowisata ini dengan baik.
”Kalau perlu, perbanyak lagi tanam mangrove di daerah Marngrove tracking ini. Ini sangat bermanfaat bagi warga,” harapnya
Lewat Program Pokwas, Vale Indonesia Libatkan Masyarakat Jaga Ekosistem Mangrove

Senior Coordinator PTPM Livelihood PT. Vale Indonesia, Sainab Husain Paragay dalam sebuah kesempatan mengungkapkan keterlibatan masyarakat sekitar objek ekowisata Mangrove sangat dibutuhkan melalui satu program bernama Pokwas atau Kelompok Pengawas yang anggotanya merupakan warga Desa Pasi-Pasi sendiri
“Dalam program ini, PT. Vale Indonesia hadir sebagai ‘suporter’ karena kita tahu, kita tak bisa ‘day to day’ apalagi inikan cakupannya di laut. Nah, kenapa kita libatkan komuniti dalam hal monitoring dan pelaksanaan programnya, karena memang mereka warga disitu, tinggal di daerah itu bahkan beberapa dari mereka adalah nelayan yang tentunya memiliki kepedulian akan kelangsungan Mangrove ini,” terang Sainab
Wanita asal Wasuponda ini menambahkan, keterlibatan masyarakat mulai dari pembibitan dengan metode ecopolybag, penanaman mangrove kemudian menjaga kelangsungan hidup mangrove itu sendiri, pembangunan Mangrove Tracking sampai kini dijadikan ekowisata sangat mendukung program ini.
“Yang menarik disini, karena cara pembibitan mangrove itu kita gunakan metode ecopolybag yang dianyam dari daun nipah. Nah, selama inikan banyak yang menggunakan metode ecopolybag dengan menggunakan plastik, itu jadi masalah karena sudah nanam, orang buang plastiknya. Kalau kita gunakan daun nipah, kita bisa langsung tanam sama bibit mangrovenya. Apalagi daun nipah ini sangat mudah kita dapatkan,” katanya
“Makanya kita manfaatkan ibu-ibu yang ada Desa Pasi-Pasi untuk menganyam ecopolybag ini,” katanya lagi
Dia menuturkan, PT. Vale Indonesia sendiri sudah membentuk sebanyak satu Pokwas yang beranggotakan sebanyak 30 orang yang sudah di SK-kan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Sulawesi Selatan
“ Untuk membekali Pokwas ini, kita sudah melakukan pelatihan, pembekalan, diskusi melalui Focus Group Discussion kita intensifkan untuk mendengar saran dan masukan dari mereka,” ujarnya
Alasan lain keterlibatan masyarakat secara langsung dalam ekosistem mangrove ini adalah peningkatan pengetahuan bagi masyarakat itu sendiri.
Mereka bisa memahami bahwa mangrove itu bukan hanya sekedar tumbuhan yang tumbuh secara liar dan tidak memiliki manfaat
“ Melalui program ini, kita bekali mereka bahwa keberadaan mangrove sangat penting bagi kehidupan khususnya mereka yang tinggal di pinggiran laut apalagi berprofesi sebagai nelayan. Dari situ mereka bisa tahu bahwa mangrove itu tempatnya ikan berkembang biak dan semacamnya. Kemudian fungsi lain bisa mencegah abrasi, penahan ombak,” tambahnya
Kedepan, keberadaan tracking mangrove di wilayah tersebut bukan hanya sekedar objek wisata, healing dan sebagainya, namun bagaimana masyarakat bisa belajar, mendapatkan informasi tentang pentingnya mangrove
“ Di daerah situ kita sudah pasang papan bicara, kedepan akan terus kita tingkatkan, fungsi pengawasan dan edukasi kita maksimalkan,” pungkasnya (*)



























