Oleh James Evanggelion – Siswa SMAN 4 Luwu Timur
Pura terasa sepi, musik gemelan berdebu, seakan menjerit untuk seseorang dapat memainkan alunan musik yang indah lewatnya. Dibalik suksesnya festival ogoh-ogoh di Desa Kertoraharjo, Kecamatan Tomoni Timur, Kabupaten Luwu Timur, ada suara hati yang perlu didengar, dari seorang ketua STT Jagatnatha.
19 Januari 2026, awal pembuatan ogoh-ogoh di Pura Jagatnatha, Desa Kertoraharjo, Tomoni
Timur. Berlangsung sekitar 2 bulan sampai pembuatan ogoh-ogoh oleh STT Jagatnatha selesai. Tattwaning Kalisangara adalah nama ogoh-ogoh yang dibuat oleh pemuda dan pemudi STT Jagatnatha, dan sokongan dari adat Pura Jagatnatha. Pembuatan ogoh-ogoh ini perlu biaya yang sangat besar, sehingga pemuda dan pemudi STT Jagatnatha sangat bekerja keras dalam mengumpulkan dana. Awalnya mereka mendapat modal sebesar Rp4.500.000 (empat juta lima ratus ribu rupiah) dari organisasi Adat Pura Jagatnatha. Ajakan untuk bekerja sama melalui sponsor juga mereka jalankan, dan berhasil terkumpul sebesar Rp42.000.000 (empat puluh dua juta rupiah). Tidak mau kalah dalam berbuat baik, masyarakat Kertoraharjo turut memberi dana
sebesar, lebih dari Rp10.000.000 (sepuluh juta rupiah) dalam pembuatan ogoh-ogoh oleh STT
Jagatnatha.

Ogoh-ogoh yang indah, menjulang ke atas, tingginya 5 meter, pukul 09.00 WITA akhirnya dapat
keluar dari Pura Jagatnatha dan diperlihatkan kepada banyak orang pada tanggal 18 Maret dalam festival ogoh-ogoh tahun 2026, di Kec. Tomoni Timur. Sebelum festival ogoh-ogoh dimulai, masyarakat setempat melakukan persembahyangan di Pura masing-masing. Awalnya dilakukan Tawur Agung Kesanga yaitu ritual penting umat Hindu, sehari sebelum Hari Raya Nyepi (saat Tilem Sasih Kesanga) untuk menyucikan diri dan alam semesta. Pecaruan atau ritual Bhuta Yadnya dalam Hindu Bali yang bertujuan menetralisir kekuatan negatif (Bhuta Kala) menjadi positif, juga terlaksana di perempatan Agung. kemudian lanjut persembahyangan pada pukul 13.00 WITA, untuk menyambut tahun baru Saka 1948.
Jeng, jeng, jeng, jeng…. Alunan musik telah dimainkan, pertanda festival ogoh-ogoh telah dimulai. Pukul 16.00 WITA semua ogoh-ogoh dari berbagai STT di Desa Kertoraharjo, telah nampak dengan jelas dan indah. Masrayakat Hindu menyambut dengan meriah. Tidak mau ketinggalan keindahannya, masyarakat dari luar desa juga turut menghampiri festival tersebut. Ucap Indri, penonton yang hadir dalam festival tersebut, merasa sangat takjub melihat karya buatan pemuda dan pemudi Desa Kertoraharjo yang sangat luar biasa indah.
“Kok bisa ya, manusia membuat karya yang sangat indah kayak ini. Kalau aku sih, mungkin butuh berapa puluh tahun baru bisa buat yang seindah ini. Luar biasa,”ucap Indri.
Pukul 17.00 WITA, satu per satu ogoh-ogoh telah sampai di Lapangan Kec. Tomoni Timur. Giliran ogoh-ogoh Tattwaning Kalisangara tiba. Masrayakat menyambut dengan sorakan yang meriah. STT Jagatnatha tidak hanya membawa ogoh-ogoh yang indah, tetapi mereka menceritakan kisah hidup dari ogoh-ogoh Tattwaning Kalisangara lewat sendratari (seni, drama, dan tari). Mereka menggabungkan antara seni tari dan drama, yang menciptakan suatu karya sendratari yang memikat hati. Ujar Ary, pemimpin sendratari STT Jagatnatha. Bagaimana cara orang bisa mengenal ogoh-ogoh yang kami buat, jika kami tidak memperkenalkannya.
“Kalau misalkan kami bawa saja itu ogoh-ogoh kesana, tidak diceritakan, tidak sampai maknanya ke masyarakat. Jadi kami membuat seni tari atau sendratari, yang seni tari digabung dengan drama. Jadi disana kita menyampaikan dari tari tersebut menyampaikan makna filosofis ogoh-ogoh yang kami buat”ujar Ary.
Gita, salah seorang penari STT Jagatnatha turut mengungkapkan isi hatinya yang sangat bahagia dan takjub dengan adanya sendratari ini.
“Suasana maghrib yang berpadu dengan rintik hujan membuat pentas tari dan festival ogoh-ogoh terasa lebih manis dan sakral”ungkap Gita.
Matahari sudah mulai terbenam, pertanda bahwa festival ini tidak lama lagi selesai. Pukul 19.00 WITA, ogoh-ogoh telah kembali ke masing-masing Pura. Masyarakat dari berbagai desa kembali kerumah mereka masing-masing, membawa sebuah cerita menarik, yang akan diceritakan saat makan malam bersama keluarga mereka.
Suara alunan musik telah redup, sorakan meriah dari masyarakat telah hilang, saatnya untuk melihat kembali isi hati dan harapan besar dari ketua STT Jagatnatha yang telah bekerja keras dalam menyukseskan kegiatan ini. Kegiatan ini sulit terlaksana dengan baik, jika sebagai masrayakat tidak ingin bekerja sama dalam menyukseskannya. Agus, salah satu pemuda STT Jagatnatha mengungkapkan harapan yang tinggi kepada orang tua pemuda dan pemudi desa Kertoraharjo, agar dapat mengizinkan anak-anaknya untuk berkontribusi dalam perayaan umat Hindu.
“Sejauh ini ada banyak masyarakat yang sangat mendukung dengan terlaksananya kegiatan ogoh-ogoh setiap tahunnya ada banyak. Tapi untuk sebagiannya, terkadang, ada masyarakat yang, kayak banyak versilah. Contohnya seperti, ada mungkin, dia punya anak yang masuk dalam organisasi muda mudi ini, yang memang orang tuanya tidak mengizinkan untuk anaknya berkontribusi dalam hal ini. Jadi sehingga kedepannya saya harap, ya, kedepannya dari masyarakatlah yang support anaknya untuk bisa berkontribusi”ungkap Agus.
Bukan hanya masyarakat Desa Kertoraharjo saja yang berkontribusi, harapan dari Ketua STT Jagatnatha, Ketut Sanjaya, agar pemerintah Kabupaten Luwu Timur dapat turut berkontribusi dalam festival ogoh-ogoh setiap tahunnya.
“Semoga kami bisa disorot lagi oleh PEMKAB LUTIM. Sempat bisa PEMKAB LUTIM mengadakan festival se Luwu Timur, karena itu memang cita-cita berbagai desa adat Bali. Bisa mengadakan festival tersebut di titik nolnya di lingkaran malili. Tolong up media sebanyak-banyaknya untuk hal ini. Semoga ini bisa dilirik oleh Bapak Bupati kita, Irwan Bachri Syam, dan semoga bisa menjadi event tahunan nantinya”ungkap Ketut. (*)



























