Menu

Mode Gelap
Kejari Lutim Tegaskan Kasus Seragam Sekolah dan Ambulans Jalan Bersamaan, Ada Potensi Penetapan Tersangka Juga Bersamaan Argentina Melaju ke Final Piala Dunia 2026, Kalahkan Inggris Dengan Skor 1-2 Warga Minta Bupati Lutim Tindak Tegas Lurah Penganiaya Warga : Dia Tak Layak Jadi ASN Potret Hitam Turnamen Sepakbola Tarkam di Kabupaten Luwu Timur, Selalu Ricuh Spanyol Berhasil Melaju ke Babak Final, Kalahkan Prancis 2-0 Fakta Jelang Laga Semifinal Prancis vs Spanyol, Siapa Yang Layak Masuk Final ?

LUWU TIMUR

Ekonom Unhas Soroti Paradoks Pembangunan Luwu Timur: Kaya Tambang, Kesejahteraan Belum Merata

badge-check

Prof. Hamid Paddu Perbesar

Prof. Hamid Paddu

MAKASSAR,Timuronline – Masih tingginya angka kemiskinan ekstrem di Kabupaten Luwu Timur di tengah besarnya kontribusi sektor pertambangan kembali memunculkan sorotan dari kalangan akademisi.

Kondisi tersebut dinilai mencerminkan paradoks pembangunan, ketika pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum sepenuhnya bertransformasi menjadi kesejahteraan yang dirasakan secara merata oleh masyarakat.

Ekonom Universitas Hasanuddin sekaligus Ketua Dewan Pakar MKPD CIDES ICMI Sulawesi Selatan, Prof. Hamid Paddu, menilai fenomena tersebut tidak dapat dipahami hanya melalui besarnya Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atau tingginya produksi nikel.

Menurutnya, indikator makro tersebut belum tentu menggambarkan kondisi riil pendapatan masyarakat.

“Yang terjadi adalah paradoks pembangunan. Daerah sangat kaya, PDRB per kapita sangat tinggi, produksi nikel besar, tetapi manfaat ekonomi tidak sepenuhnya tersebar merata kepada seluruh masyarakat,” kata Hamid saat dimintai tanggapannya terkait kondisi kemiskinan ekstrem di daerah penghasil tambang, termasuk Luwu Timur, Kamis (2/7/2026).

Ia menjelaskan, tingginya PDRB Luwu Timur sebagian besar ditopang aktivitas perusahaan-perusahaan pertambangan nikel, terutama PT Vale Indonesia Tbk.

Namun, nilai tambah yang tercipta lebih banyak berasal dari keuntungan perusahaan, penyusutan modal, pembayaran kepada investor, serta karakter industri yang bersifat padat modal.

Akibatnya, meskipun PDRB per kapita Luwu Timur tergolong tinggi, pendapatan rumah tangga masyarakat tidak otomatis meningkat.

“Dengan kata lain, ekonomi daerah tumbuh lebih cepat daripada kesejahteraan masyarakat. PDRB yang tinggi adalah angka rata-rata, sementara manfaat ekonominya belum tentu dinikmati secara merata oleh warga,” ujarnya.

Ekonomi Luwu Timur Masih Bergantung Pada Sektor Pertambangan

Hamid menilai struktur ekonomi Luwu Timur hingga kini masih sangat bergantung pada sektor pertambangan. Di sisi lain, sektor-sektor produktif seperti pertanian, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), industri pengolahan lokal, pariwisata, maupun ekonomi kreatif belum berkembang secara seimbang.

Kondisi tersebut, menurutnya, melahirkan dualisme ekonomi. Kawasan yang berada di sekitar aktivitas pertambangan berkembang jauh lebih cepat dibandingkan wilayah-wilayah pertanian atau desa yang letaknya jauh dari pusat industri.

“Akibatnya muncul kesenjangan antarkawasan. Akses pendidikan menjadi berbeda, pelayanan kesehatan belum merata, dan masih ada desa-desa yang tertinggal dari sisi infrastruktur,” katanya.

Hamid menegaskan, persoalan tersebut tidak bisa diselesaikan hanya dengan meningkatkan investasi di sektor tambang. Yang lebih penting adalah memastikan kekayaan sumber daya alam mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar di daerah serta memperluas kesempatan ekonomi bagi masyarakat lokal.

Ia mendorong pemerintah mempercepat pembangunan industri hilir nikel di Luwu Timur agar nilai tambah dan lapangan kerja tidak berpindah ke daerah lain.

“Hilirisasi seharusnya dikembangkan di daerah penghasil, bukan seluruh nilai tambahnya dinikmati kawasan industri di luar Sulawesi. Dengan begitu, kesempatan kerja dan aktivitas ekonomi lokal akan tumbuh lebih besar,” ujarnya.

Selain itu, ia menilai peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi agenda yang tidak bisa ditunda.

Pemerintah daerah didorong memperkuat pendidikan vokasi dan pelatihan kerja melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi, termasuk Universitas Hasanuddin, serta Balai Latihan Kerja (BLK), sehingga tenaga kerja lokal mampu mengisi posisi-posisi yang membutuhkan keahlian tinggi di sektor industri.

Di saat yang sama, pertumbuhan UMKM dan industri pendukung juga perlu dipercepat agar memiliki keterkaitan langsung dengan rantai pasok sektor pertambangan.

Hamid juga menekankan pentingnya memanfaatkan pendapatan daerah yang bersumber dari aktivitas pertambangan untuk investasi jangka panjang di bidang pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan inovasi.

Tak kalah penting, menurutnya, adalah memperkuat tata kelola penerimaan daerah agar lebih transparan dan akuntabel sehingga manfaat ekonomi dari sektor tambang benar-benar dirasakan masyarakat.

“Intinya adalah bagaimana mengubah kekayaan sumber daya alam menjadi kesejahteraan yang inklusif. Keberhasilan pembangunan bukan hanya diukur dari besarnya PDRB, tetapi dari sejauh mana seluruh lapisan masyarakat ikut menikmati manfaat pertumbuhan ekonomi,” pungkasnya. (ril)

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Kejari Lutim Tegaskan Kasus Seragam Sekolah dan Ambulans Jalan Bersamaan, Ada Potensi Penetapan Tersangka Juga Bersamaan

16 Juli 2026 - 13:13 WITA

Kasi Intel Kejari Luwu Timur, Deri F Rachman

Warga Minta Bupati Lutim Tindak Tegas Lurah Penganiaya Warga : Dia Tak Layak Jadi ASN

15 Juli 2026 - 23:59 WITA

Potret Hitam Turnamen Sepakbola Tarkam di Kabupaten Luwu Timur, Selalu Ricuh

15 Juli 2026 - 16:43 WITA

Catatan Menohok Fraksi PDI-P Terhadap Banyaknya Program Pemkab Lutim Bermasalah

10 Juli 2026 - 21:53 WITA

Cium Adanya Pelanggaran HAM, Komnas HAM RI Minta Bupati Lutim Tunda Penggusuran Petani Laoli

9 Juli 2026 - 21:04 WITA

Erwin Sandi dan Armin Jafar Memenuhi Panggilan Kejari Luwu Timur, Sudah Tersangka ?

9 Juli 2026 - 09:51 WITA

Kejari Lutim Geledah Rumah Erwin Sandi di Malili, Sita Sejumlah Barang Bukti

3 Juli 2026 - 16:03 WITA

Trending KRIMINAL