Menu

Mode Gelap
Sukseskan Musancab, DPC PDI-P Lutim Gelar Rapat Persiapan Dua Guru Ngaji di Lutim Tak Lagi Terima Insentif, Namanya Tiba-tiba Menghilang Suara Hati Ketua STT: Upaya Merajut Kerja Sama Masyarakat Hindu Di Desa Kertoraharjo SMAN 4 Luwu Timur Gelar Studi Wawasan di Wawania Rahampu’u Matano Pertama di Piala Dunia 2026, Messi Cetak Hattrick, Jadi Top Scorer Sementara Hasil Group I Piala Dunia 2026 : Perancis Taklukkan Senegal, Mbappe Cetak Brace

LUWU TIMUR

Menjaga Harapan di Tanah Merica: Cerita dari Loeha Raya tentang Ruang Hidup, Perempuan, dan Masa Depan yang Inklusif

badge-check


					Menjaga Harapan di Tanah Merica: Cerita dari Loeha Raya tentang Ruang Hidup, Perempuan, dan Masa Depan yang Inklusif Perbesar

LUWU TIMUR,Timuronline – Di balik rimbunnya kebun merica yang menyelimuti perbukitan Loeha Raya, tersembunyi cerita tentang perjuangan, ketahanan, dan harapan akan masa depan yang lebih inklusif. Konflik wacana antara pelestarian lingkungan dan kebutuhan ekonomi masyarakat memang nyata, namun ada juga suara-suara yang lebih tenang—yang mengajak duduk bersama, bukan saling menunjuk.

Fatmawati, warga Loeha yang kini menjalankan usaha kecil di bidang kuliner, mengenang bagaimana tiga tahun lalu ia masih berdiri di garis yang menolak aktivitas tambang. Namun, waktu dan pengalaman mengajarkannya bahwa membangun masa depan bukan hanya tentang menolak, tapi juga tentang membuka pintu dialog.

“Ada waktunya kita bicara keras, tapi ada waktunya kita mendengarkan. Saya melihat PT Vale membuka ruang untuk keterlibatan perempuan, untuk UMKM, dan saya ingin itu tumbuh. Saya ingin anak saya punya lebih banyak pilihan pekerjaan daripada yang saya punya dulu,” ujar Fatmawati.

Antara Lada dan Lapangan Kerja

Tidak bisa dipungkiri, merica adalah nadi ekonomi Loeha. Namun, seperti yang disampaikan Buana, seorang petani sekaligus ibu rumah tangga dari Desa Loeha, hasil dari kebun merica tidak selalu mencukupi semua kebutuhan rumah tangga. “Ladang saya tidak besar, dan harga merica fluktuatif. Kadang saya harus menjual ayam atau pinjam ke tetangga kalau anak sakit. Saya berharap, kalau ada tambang, kami bisa ikut serta dan tidak sekadar jadi penonton,” katanya.

Buana, yang dulunya aktif dalam gerakan penolakan, kini memilih sikap yang lebih kolaboratif. “Kami bukan melupakan perjuangan, tapi kami juga butuh solusi. Kalau ada ruang untuk masyarakat terlibat, kenapa tidak kita manfaatkan?”

Tidak semua hal tentang industri tambang berjalan mulus. Bahkan warga seperti Fatmawati dan Buana mengakui akan tetap bersuara bila ada kebijakan yang merugikan masyarakat. Namun mereka juga percaya bahwa solusi tidak lahir dari konfrontasi tanpa akhir.

Sebaliknya, pendidikan dan pemberdayaan menjadi kunci. Inisiatif untuk mendukung UMKM perempuan, program pelatihan untuk generasi muda, hingga upaya membangun infrastruktur sosial seperti posyandu dan sekolah menjadi bukti bahwa pembangunan bisa bersifat manusiawi jika dilakukan bersama.

“Yang kami butuhkan bukan belas kasih, tapi kemitraan yang adil,” ujar Fatmawati sambil menatap hamparan kebun kecilnya.

Menanam Harapan di Tanah Sendiri

Di tengah beragam suara, satu hal yang pasti: masyarakat Loeha Raya adalah penjaga tanah mereka sendiri. Mereka tahu kapan harus berkata cukup, tapi juga tahu kapan harus membuka ruang baru untuk harapan. Bagi mereka, masa depan tidak harus menjadi pilihan antara lada atau tambang, antara tradisi atau teknologi—tapi tentang bagaimana semua pihak bisa bekerja sama menjaga keseimbangan.

Dan mungkin, dari Loeha Raya, kita belajar bahwa keberlanjutan sejati dimulai dari kesediaan untuk saling mendengarkan. (*)

Baca Lainnya

Dua Guru Ngaji di Lutim Tak Lagi Terima Insentif, Namanya Tiba-tiba Menghilang

17 Juni 2026 - 11:54 WITA

Viral, Warga Tahan Mobil Pick Up Angkut Solar Ilegal, Polisi : Kita Sudah Amankan

15 Juni 2026 - 10:53 WITA

Lagi Temuan BPK, 20 Penerima Bantuan Lansia Dibawah Umur 60 tahun

12 Juni 2026 - 13:12 WITA

Bantuan Seragam Sekolah di Lutim Banyak Masalah, BPK RI Temukan Fakta Mengejutkan

12 Juni 2026 - 11:02 WITA

Kejari Lutim Pastikan Kasus Seragam Sekolah Tetap Berjalan. Akan Ada Tersangka ?

11 Juni 2026 - 10:55 WITA

PN Malili Menangkan Gugatan Siddiq : SK DPP Nasdem Tak Memiliki Hukum Mengikat

10 Juni 2026 - 10:24 WITA

OSIS – Gudep SMAN 4 Luwu Timur Gelar Program GOES, Siswa Antusias

31 Mei 2026 - 09:44 WITA

Trending CITIZEN JOURNALISM