Timur Online – Pertama di Luwu Raya

Sikapi Bencana Banjir dan Longsor di Luwu Timur, Ini Kata Wakil Rakyat dan Tomas

Minggu, 9 Juni 2019 | 1:01 pm
Posted by: Rifal Dj
Dibaca: 269

Laporan : Rd

Foto : Seorang bocah di Mahalona hanya bisa pasrah melihat kondisi rumahnya yang terendam banjir

LUWU TIMUR,Timuronline – Tingginya intensitas curah hujan di berbagai daerah di Sulawesi Selatan (Sulsel) khususnya di Kabupaten Luwu Timur mengakibatkan banjir dan longsor di beberapa wilayah, salah satunya di Mahalona Kecamatan Towuti, bahkan banjir ini mengakibatkan akses jalan seperti jembatan terputus dan membuat warga di salah satu wilayah di Mahalona terisolir.

Menyikapi hal ini, berbagai pihak pun angkat bicara. Ada yang mengatakan banjir dan longsor yang terjadi disebabkan maraknya aksi ilegal logging dan pembabatan hutan secara besar-besaran untuk kemudian dijadikan lahan perkebunan.

” Kita prihatin dengan kondisi atau bencana ini. Ini harus menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan pihak-pihak terkait. Kita lihat sudah banyak aktifitas penggundulan hutan yang terjadi di wilayah ini, itu salah satu penyebab datangnya musibah,” Ungkap H. Amran Syam, Ketua DPRD Luwu Timur

Lain halnya dengan Anggota DPRD Luwu Timur, Pieter Parrangan yang mengharapkan harus ada sebuah tindakan yang tegas bagi para perusak lingkungan.

” Segera penanganan korban dan rehabilitasi lokasi dan yang terpenting juga investigasi dan tindakan serius dari pihak terkait jika sumber musibah ini akibat ulah oknum oknum tertentu, bukan sebatas rasa dan peduli saja,” Tulis Pieter seperti dikutip dalam sebuah diskusi di salah satu group Whatapp, Minggu (09/06/19)

Senada, Johan Daming, salah seorang tokoh masyarakat Wotu masih dikutip melalui percakapan Whatsapp tersebut mengungkapkan kalau tidak ada tindakan rill berupa penegakan hukum dan mengembalikan fungsi-fungsi hutan di lutim, peristiwa akan terulang terus menerus.

Sementara itu, Anggota DPRD Luwu Timur terpilih, Suprianto justru menyesalkan kalau penanganan hutan diserahkan kepada pihak kehutanan.

” Karena sebatas wacana saja apalagi kalau penanganan hutan diserahkan pihak kehutanan sedang petugas kehutana ada di makassar bukan di hutan mana bisa, jadi menurut saya marilah kita duduk bersama kita bicara demi kelestarian alam kita karena bila terjadi bencana bukan orang di luar Luwu Timur yang meradakan, kita semua, jadi janganlah terlalu berharap kepada kehutanan. Kita-kitalah semua punya tanggung jawab,” Ungkapnya.

Bencana longsor dan banjir yang terjadi di Luwu Timur bukan baru pertama kali, tapi terjadi tiap tahunnya apalagi saat curah hujan tinggi. Masih terngiang dalam kepala kita, bencana longsor yang terjadi di Desa Maliwowo Kecamatan Angkona dimana saat itu menelan korban jiwa sebanyak 7 orang.

Nah, apakah kita menginginkan sesuatu yang sama kembali terjadi ? Sudah pasti tidak. Untuk itu dibutuhkan dukungan dari kita dan semua pihak terkait untuk menjaga hutan di Bumi Batara Guru ini. (Redaksi)

 

 

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Name *

Timur-online.com - Pertama di Luwu Raya Copyright 2019 ©. All Rights Reserved.  
error: oiii,,ga boleh copas
Lewat ke baris perkakas