LUWU TIMUR,Timuronline – Tiap tahun, Pemerintah melalui pemerintah kecamatan menggelar Turnamen Sepakbola Antar Kampung (Tarkam) di beberapa Kecamatan di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
Turnamen sepakbola dalam rangka untuk memperingati Hari Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945 ini diikuti oleh seluruh desa yang ada di wilayah kecamatan yang mengadakan turnamen.
Kecamatan Malili, Wasuponda, Towuti, Mangkutana, Wotu, Tomoni dan Burau adalah beberapa kecamatan yang rutin melaksanakan tarkam ini.

Hanya saja, hampir tiap tahun pula turnamen ini selalu di hiasi dengan kericuhan. Bahkan parahnya tak jarang terjadi perkelahian, baik itu antar pemain atau penonton.
Terakhir, turnamen tarkan 7-an yang berlangsung di Kecamatan Towuti harus dihentikan dan tidak dilanjutkan lantaran terjadinya pemukulan terhadap hakim garis oleh pemain dan penonton sehingga terjadi keributan.
” Kita tentu menyayangkan hal semacam ini terus berulang seakan tidak ada efek jera. Di Towuti, Malili, Wasuponda dan kecamatan lainnya, hampir tiap tahun pasti kacau dan tentu ini yang tidak kita inginkan Bersama,” Sesal Hermanto, warga Luwu Timur
Dia menyarankan agar ada aturan atau Law Of The Game yang lebih tegas lagi agar kondisi seperti ini tidak terulang Kembali
” alau ada pemain yang menjadi pemicu atas keributan. Misalnya saja pukul wasit, dengan sengaja menciderai lawan dan sebagainya, yah kita harus tegas, banned dia. Jangan beri dia ijin bermain Luwu Timur. Pemain seperti ini perlu mendapatkan efek jera,” Tegasnya
Kepada para penonton,dia berharap agar menjadi penonton yang baik dan bukan justru menjadi provokator di luar lapangan
” Ini juga penonton, terkadang justru mereka yang menjadi sebab pemicu terjadinya keributan. Permasalahan ini sebenarnya cukup komplit. Ini sudah jadi “potret hitam” sepakbola kita. Ini harus jadi perhatian kita Bersama,” katanya
Ketua PSSI : Perlu Ada Edukasi
Menyikapi permasalahan ini, Ketua PSSI Kabupaten Luwu Timur, Asri Rahman Agri, Rabu (15/07/2026) menyayangkan kejadian tersebut. Menurutnya edukasi dan pembinaan secara dini sepakbola perlu untuk lebih di intensifkan lagi
” Kita semua tentu tidak menginginkan hal ini terjadi. Namun faktanya itu masih terjadi. Di satu sisi, geliat sepakbola di Kabupaten Luwu Timur ini mulai meningkat, turnamen-turnamen sepakbola juga sudah rutin, namun di sisi lain, keributan masih saja terjadi. Ini sangat kita sayangkan dan ini sudah berulang,” ujarnya
Dia menambahkan, sarana dan prasarana lapangan sepakbola yang ada perlu untuk ditingkatkan, karena salah satu pemicu terjadinya keributan karena tidak ada batas antara penonton dan pemain.
” Coba kita lihat kondisi lapangan kita, bahkan terkadang penonton sampai masuk ke dalam garis lapangan. Begitu terjadi gesekan sedikit, penonton langsung masuk dan melakukan hal-hal yang tidak baik. Beda halnya dengan lapangan yang ada pagar atau pembatasnya, seperti contoh lapangan persesos sorowako. Penonton tidak bisa masuk apalagi berbuat keributan. Kalau ada perselisihan antar pemain, kan urusannya wasit,” Tuturnya
Terkhusus keributan yang terjadi di Kecamatan Towuti, dia meminta kepada panitia untuk menghentikan pertandingan tersebut.
” Panitia kan juga sebelumnya sudah membuat komitmen kepada kami kalau terjadi keributan,turnamen akan dihentikan. Yah sudah, kita hentikan,” pungkasnya (*)




























Komentar ditutup.